TKW Tulungagung Ungkap Suka Duka Jalani Ibadah Puasa di Taiwan, Antara Bangga dan Main Umpet
SuaraBMI - Menjalankan ibadah puasa bagi para tenaga kerja wanita (TKW) di Taiwan tidak semuanya berjalan mudah. Pasalnya, bagi TKW atau Pekerja Migran Indonesia (PMI) tidak semua mempunyai majikan yang dapat memahami agama atau kepercayaan yang dimiliki oleh pembantunya.
Tidak heran, jika banyak cerita untuk menjalankan ibadah puasa saja harus ngumpet-ngumpet (sembunyi-sembunyi) dari majikan agar puasanya bisa dilaksanakan dengan baik.
"Jika siang ditanya majikan, apa sudah makan selalu saya bilang sudah," kata Rois (32) TKW asli Tulungagung yang kini bekerja jadi pembantu rumah tangga di Taiwan.
[post_ads]
Lanjut Rois, untuk mengelabui majikan, pembantu harus pandai. Salah satu cara bibir bagian luar harus selalu tampak basah dan tidak boleh terlihat lemas karena lapar menahan makan dan minum.
"Istilahnya harus selalu tetap terlihat gesit dan lincah," ungkapnya.
Pengalaman Rois, beda dengan yang dialami Rafika Putri, TKW yang kini telah menjadi istri warga asli Taiwan. Meski dalam keluarga besarnya di negeri Formosa ini beragama non muslim, ia tetap menjadi muslim taat dan menjalankan puasa.
"Kalau saya tetap puasa. Keluarga besar sangat menghormati sikap saya sebagai muslim. Kebetulan, suami saya sudah mualaf," ujarnya, Selasa (20/4/2021).
TKW Asli Boyolangu atau tepatnya Desa Tanjungsari ini mengungkapkan dirinya bekerja di pabrik. Hingga saat ini, yang tahu bahwa ia berpuasa hanya empat orang saja.
"Kebetulan, yang tahu saya puasa hanya empat orang teman. Jika tahu semua, biasanya ya kepo," ungkapnya.
[post_ads_2]
Pengalaman yang pernah ia dengar dari banyak buruh migran lain, orang Taiwan selalu takut jika orang puasa akan berakibat pada hal buruk.
"Majikan kadang takut jika tidak minum air putih bisa menyebabkan mati. Atau, jika dikatakan bahwa puasa adalah perintah Tuhan sang majikan menjawab jika Tuhan tidak tahu kamu di Taiwan. Makanya makan atau minum saja. Ceritanya macam-macam, yang seperti itu juga ada," paparnya.
Tidak banyak berbeda, lama puasa di Taiwan dan di Indonesia. Menurut Rafika, ia mulai sahur sekitar jam 4.00 waktu setempat dan buka puasa sekitar jam 18.20 waktu Taiwan.
Bagi para buruh migran, dapat menjalankan ibadah puasa di perantauan merupakan kebanggaan dan jika takbir tiba dan belum bisa ketemu keluarga, tangis mendalam selalu dirasakan saat menjalin komunikasi melalui jaringan video.
COMMENTS